Mertuaku, Orang Tuaku…

Tinggal bersama mertua memang tidak enak, Begitulah yang aku rasakan. Dulu sering mendengar cerita dari kawan-kawan tentang kehidupan mereka yang tinggal bersama mertua. ada saja kesalahfahaman. Apalagi jika mertuanya cerewet, lain di depan lain dibelakang. Jika ada suami kita ( anaknya) baik, Tapi jika suami tidak ada hidup seperti dalam sekam.

Bukannya menjelekkan, tapi sekedar berbagi cerita. semoga ada hikmah didalamnya.

Sekitar 5 tahun silam aku menikah dengan suamiku, sebut saja namanya  Rafa, kami dikaruniai seorang anak  perempuan, dia cantik,lucu dan menggemaskan. Awalnya kita hidup terpisah dari orangtua dan mertuaku. Kami mengontrak di sebuah kawasan Surabaya. Suamiku bekerja sebagai Manejer di suatu perusahaan asing, Namun sayang nasib belum berpihak kepada kami, Suamiku terkena PHK. dari sinilah awal mula kisahku bermula.

Setelah kena PHK kami pindah rumah menumpang di keluargaku, Tidak enak juga dengan ayah,ibu serta adik-adik yang lain. Tapi mau bagaimana lagi, Saya bingung hendak minta tolong siapa. Hari berganti bulan dan tahun, Keadaan ekonomi keluarga semakin memburuk karena ayah satu-satunya yang menanggung beban keluarga. Ingin rasanya membantu mereka, dengan usaha kecil-kecilan tapi usahaku selalu saja gagal, ada saja halangan seperti pembeli yang berhutang dan tidak bayar dalam waktu lama. Walhasil daganganku bangkrut.

Mas Rafa pun sudah berusaha melamar kerja kesana-kemari tapi belum membuahkan hasil. Dia akhirnya mencoba kerja serabutan dengan membantu tetangga menjual pakaian, menjadi kuli panggul, jualan koran dll semua dia lakukan demi mencukupi kebutuhan kami. Alhamdulillah berkat kesabaran dan kerja keras kamipun bisa mengontrak rumah sendiri, walau kecil tapi yang terpenting tidak menyusahkan orang tua kembali.

Hingga suatu ketika kami mendapat telephon dari mertua, Bahwa mereka rindu dengan cucunya dan ingin bertemu. Awalnya kami hanya berkunjung sebentar saja, Tapi mertua perempuan menahanku karena masih rindu dengan cucunya. Kami menginap sampai beberapa hari. Pekerjaan mas Rafa pun terbengkalai karena mertua begitu manja ingin dibantu apa-apa oleh anaknya. Saya maklum mungkin mereka rindu dengan anak cucunya, Namun lama kelamaan mertuaku seperti tidak mau melepaskan kami. Ketika kami hendak berpamitan pulang,mereka mencegah dengan alasan tidak ada lagi yang mengurus mereka. Mas Rafa dengan berat hati akhirnya menuruti keinginan mereka untuk tinggal bersama mereka, sebelumnya memang mas Rafa berunding denganku dahulu.

“De, Bagaimana Bapak dan Ibu tidak mengizinkan kita pergi. Mereka mau kita semua tinggal disini membantu perkebunan. Lagipula ini orang tuaku ya orangtuamu juga toh? Apa kamu tidak keberatan? ”

Entah bagaimana menolak tawaran mertua, tapi saya sebagai istri harus menurut kepada suami, lagipula ini demi kebaikan bersama. Itu yang mas Rafa katakan kepadaku.

“Nanti ade ada yang jaga,jadi kamu gak usah khawatir tentang anak kita selama kita di kebun. Kamu mau kan bantu orang tuaku,mertuamu itu?”
“InshaAllah mas” Sahutku datar.

“Yang ikhlas dong maunya, Jadi saya tidak merasa bersalah . Lagipula  kita bisa bicarakan nanti kalau kamu dan ade tidak betah. Ya toh?”

“nggih,gimana baiknya menurut mas”

“Nah gitu dong,mas sayang kamu.”

Bersambung…………………..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s