Aku Bertobat, Kembali ke Kodratku sebagai Wanita

 Namaku Susi (bukan nama sebenarnya), BMI Hong Kong dari Ponorogo. Awal berangkat ke Hong Kong tahun 2007 melalui PT di Surabaya dengan job menjaga anak. Gaji underpay HKD 2000. Waktu itu aku belum mengerti tentang hukum-hukum dan peraturan di Negeri Jackie Chan ini.

Aku diharuskan membayar agent 1800 per bulan. Karena tidak tahan dipekerjakan dua rumah dan tidak diberi libur, setelah 4 bulan bekerja, aku memutuskan kabur dari majikan. Dibantu oleh kawan-kawan Shelter Istiqomah, akhirnya aku adukan majikan ke Labour (Depnaker Hong Kong) dan aku memenangkan persidangan. Majikan memberiku HKD 13.000. Aku pulang ke tanah air setelah itu.

Tidak betah di tanah air, akhirnya aku kembali merantau ke Hong Kong. Kekasih hati yang aku sayangi menghamili anak orang. Nah, di sinilah kisah kelam hidupku bermula. Karena aku benar-benar down, patah hati, serta depresi, suatu ketika ada kawan BMI yang memperhatikanku. Dulu kami pernah bertemu waktu di shelter. Dia memperhatikanku layaknya sang kekasih. Akhirnya aku bergumul dengan kebodohanku, terjerumus dalam dosa, melupakan kodratku sebagai wanita. Aku menjadi TB (tomboy).

Suatu ketika aku bermimpi, ibu kandungku meninggal dunia. Aku terbangun. Menangis. Sesak rasanya hatiku. Mimpi itu terasa begitu nyata. Aku takut jika itu benar-benar terjadi aku masih dalam keadaan seperti ini, penuh dosa, belum bisa membahagiakan ibu.

Aku mulai gamang dengan jalan hidupku, seperti tak punya tujuan, tapi aku lelah dengan semuanya. Kurasakan semua yang kualami ini seperti membawa beban yang sangat berat. Hidupku tidak tentram, seperti ada sesuatu yang menghimpitku.

Aku mulai membaca buku-buku Islami. Waktu itu baca Majalah Iqro (terbitan Dompet Dhuafa Hong Kong/DDHK) yang membahas tentang anak-anak TB yang tobat. Dalam hati, aku berpikir, mereka saja bisa, masak aku tidak bisa!

Akhirnya, melalui perjuangan batin yang sangat susah, apalagi pengaruh teman-teman lingkungan yang sudah telanjur sayang, susah sekali dihilangkan. Hingga aku harus mencuri-curi penampilan. Jika bersama mereka, teman-teman TB, aku berdandan bak laki-laki. Namun, jika bertemu teman lainnya, aku berdandan layaknya wanita biasa.

Berkat dukungan teman-teman sekolah (aku mengambil sekolah Kejar Paket), dengan curhatku pada mereka, pergaulan dan cara pandang yang berbeda akhirnya aku bisa berubah perlahan. Aku tinggalkan kehidupan TB,walau awalnya merasa aneh menjadi wanita kembali. Mau keluar rumah saja seperti malas-malasan, masih ngumpet-ngumpet kalau dandan.

Aku bilang pada “bojoku” agar dia menyudahi semuanya dan kembali kepada kodratnya sebagai wanita. Tapi dia tidak terima. Malah disangka aku bercanda dan akhirnya marah-marah.

Dia bilang sudah tidak bisa mencintai laki-laki lagi. Tidak ada rasa sama sekali. Aku tidak bisa menyalahkan atau menghujatnya karena aku tahu bagaimana perasaan dia ketika itu. Mungkin luka hati yang teramat dalam akan masa lalunya membuat dia menutup hatinya untuk lelaki. Apalagi dia sudah lama di sini, sekitar 10 tahun. Kurangnya interaksi dengan kaum adam, jauhnya dari keluarga, sehingga tidak ada yang memberi nasihat atau mengawasi ketika kita terlupa.

Ya, kalau dipikir, di sini memang pikiran kita hanya mencari uang dan uang. Maka, ketika mendapatkannya, kita hanya ingin bersenang-senang, melupakan semua perih yang dirasa.Yang penting happy, enjoy. Orang mau bilang apa, bukan urusan!

Banyak waktu yang terbuang, tapi aku berusaha bangkit memulai hidup baru. Lingkungan memang mempunyai pengaruh besar dalam membentuk pribadi seseorang. Maka, ingatlah kembali awal niat kita ke sini untuk apa. Kalau ingin bekerja membantu keluarga, maka luruskan dan laksanakan itu. Pergunakan waktu libur isi dengan kegiatan yang bermanfaat agar semua yang kita perjuangkan tidak sia-sia.

Sulit memang untuk menghilangkan kebiasaanku dulu karena orang-orang sepertiku biasanya mereka tidak mau kehilangan teman. Namun, jika ia benar-benar teman sejati, maka ia akan terima kita apa adanya. Jadi, jangan takut untuk kembali ke kodratmu wahai wanita! Refresh kembali niatmu! Coba tengok ke belakang, hidup yang kita jalani hanya foya-foya, hura-hura, jalan-jalan, shopping, hanya menghabiskan uang.

Maka merugilah orang-orang yang melampaui batas. Selagi kita masih di sini, memegang gaji dolar, pergunakan semuanya sehingga ada manfaatnya ketika di tanah air nanti sekalipun.

Kini aku merasakan adanya ketentraman hati. Beda dengan dulu waktu aku masih TB. Hidupku seperti memikul beras sekarung. Berat sekali! Mungkin karena aku menjalani hidupku dengan sesuatu yang tidak diridhoi. (Seperti diceritakan kepada Rima Khumaira/ddhongkong.org).*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s