Aku Lalui Ramadhan- – Mu Di Negeri Orang

Ramadhan telah berlalu. Kini tiba saatnya hari kemenangan. Entah harus sedih atau bahagia. Sedih karena bulan yang penuh rahmat ini akan berlalu,Bahagia karena tiba hari kemenangan, kembali fitri (suci), membuka lembaran baru. Semua perasaan jadi satu. Jauh dari keluarga. saat-saat seperti ini yang kadang buat down, tapi ini pilihan hidupku dan harus dijalani.
Kalau biasanya disibukkan dengan pekerjaan, kegiatan organisasi. Kini, sepertinya kesibukan itu lenyap. Aku seperti sendiri dalam keramaian. Yaa Kariim, Ramadhan-Mu kan berlalu, akankah hamba bisa bertemu kembali dengan bulan suci-Mu?
Apa yang telah hamba raih selama ini? Apakah semua mendekatkan atau menjauhkan hamba dari-Mu? Terdiamku dalam sujud sore ini, melantunkan ayat-ayat suci-Mu, terisak merayu memanggil nama-Mu..Ya Lathif….!
Ramadhan itu bulan perubahan. Jika di bulan-bulan lainnya ibadah kita kurang, maka di bulan yang penuh berkah ini semua ganjaran kebaikan dilipatgandakan. Jika di bulan lainnya kita sibuk dengan rutinitas duniawi, maka satu bulan dalam setahun ruh kita perlu beristirahat, mendekatkan diri pada Sang Khaliq, berubah ke arah yang lebih baik dengan puasa agar menuju menjadi hamba yang mencapai derajat takwa.
Perubahan itu sendiri tidak hanya fisik, penampilan, performance, tapi juga sikap dan perilaku kita. Lalu bagaimana kita melewati Ramadhan ini agar lebih bermakna?
Walau jauh dari keluarga, teman, saudara, bahkan orang-orang terkasih sekalipun, kita bisa dengan mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, perbanyak membaca al-Qur’an, sholatnya lebih ditingkatkan, berbuat baik, jaga akidah dimanapun kita berada. Itulah pesan ayah dan ibu yang selalu kuingat.
Mendengar suara mereka dengan segala doa dan wejangannya membuat hatiku tentram, walau kami tak bertemu bertatap muka langsung. Ibu bagiku sosok wanita yang luar biasa. Ayah seorang lelaki yang istimewa. Berkat doa mereka aku masih tetap bertahan dengan segudang rindu yang tertahan.
Alhamdulillah, walau di rantau masih bisa melaksanakan sholat Id dengan muslim lainnya, masih bisa merasakan opor ketupat dan ayam serta makanan khas lebaran lainnya, mungkin suasananya saja yang berbeda. Tapi dengan kehadiran teman-teman seperjuangan apalagi organisasi-organisasi Islam BMI Hong Kong, rasa rindu akan keluarga dan tanah air agak sedikit terobati karena di sini juga mengadakan Halal Bihalal, open house di KJRI, Dompet Dhuafa Hong Kong, serta organisasi lainnya semuanya dalam satu ikatan cinta hari yang fitri.
Dalam menyambut hari kemenangan, tidak seperti di tanah air dengan pawai keliling menggemakan takbir, bahkan ada yang salah persepsi dengan main petasan, mabuk-mabukan, dan sebagainya. Di sini karena umumnya ikut majikan, takbiran cukup di rumah dengan menelepon keluarga, melihat acara takbir di TV Indonesia.
Ada sebagian kawan yang diizinkan keluar rumah malamnya dan bisa takbiran kumpul bersama kawan atau organisasi. Tetap bersyukur akan semuanya. Semoga menjadi hamba yang lebih baik lagi. Taqoballahu Mina Wa minkum, Taqaballah yaa Kariim. (Rima Khumaira, reporter DDHK News/ddhongkong.org).*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s