Maaf, Jangan Pandang Rendah BMI

BAGIKU menulis tentang kisah kawan-kawan baik yang di luar negeri maupun yang di tanah air ada kesan tersendiri. Banyak hikmah yang didapat. Dari sana aku banyak belajar. Dengan menulis kita bisa menembus batas. Berbagi kisah, motivasi, sharing, bahkan menjadi ide tersendiri untuk menjadi jauh lebih baik.
Banyak yang bertanya, kerja apa aku di sini (Hong Kong)? Kok bisa berorganisasi, jalan ke mana-mana, ikut berbagai kegiatan, dan sebagainya? Menjadi BMI Hong Kong memang “sesuatu” karena banyak manfaat yang kita dapatkan selama di sini. Tentunya bagi mereka yang bisa memanfaatkan waktunya dengan baik.
Aku sama seperti kawan-kawan BMI lainnya. Pekerjaanku menjaga anak usia 8 tahun dan pekerjaan rumah lainnya. Di Hong Kong kami memiliki libur sehari setiap minggu dan ada 12 hari nasional dalam setahun.
Dari situ kami bisa memanfaatkan waktu dengan kegiatan-kegiatan yang kami inginkan. Banyak organisasi BMI HK, mulai dari organisasi keagamaan, olahraga, kesenian, advokasi, bahkan ada grup yang membahas tentang investasi dan wirausaha. Semuanya ada di sini, tergantung mana yang mau kita pilih.
Yang suka silat, ada Teratai Putih. Yang suka Taekwondo, ada HKFTA. Yang suka dance atau menari, ada CFK. Yang suka nulis ada FLP. Yang suka hiking atau kemping, ada Permata Club. Yang suka olahraga, ada Golpindo. Yang suka ngaji, bertebaran organisasi-organisasi muslim baik yang halaqoh ataupun majelis yang tersebar di taman-taman HK ataupun di shelter-shelter. Berbagai macam kursus pun tersedia. Dari kursus berbagai macam bahasa, komputer, memasak, salon, menjahit, gitar, menyanyi. Pokoknya, semua “tumplek blek”, bahkan ada Universitas Terbuka (UT) juga bagi kawan-kawan yang mau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Aku sendiri tergabung menjadi volunteer di Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) sebagai reporter freelance untuk website DDHK News (www.ddhongkong.org). Aku bangga menjadi BMI, bukan berarti sombong. Apa yang aku dapatkan di sini merupakan karunia tersendiri. Di tanah air begitu sulit, semua di sini aku mudah mendapatkan. Bukan kufur nikmat juga dengan yang ada di tanah air.
“Aku adalah yang terbaik untuk masa depanku.” Itu pesan Ustadz Muslih Aziz (Yatama Az-Zikra Depok) yang selalu mengiang di telingaku. Setidaknya kita sedang berusaha tuk perbaiki masa depan walau kita tidak tahu bagaimana nantinya.
Banyak yang beranggapan miring tentang BMI HK, bahkan ada pula yang mencibir menganggap rendah kami, karena merasa mereka seorang PNS atau wiraswasta, mungkin juga bos di tanah air. Boleh rendah hati, asal tidak rendah diri!
Ada teman yang menanyakan kegiatanku via chat facebook. Setelah aku bilang seorang BMI/TKW, dia malah menjauh mundur teratur. Sempat juga melontarkan kata-kata yang tidak enak didengar. Awalnya aku tanggapi dengan santai dan tanya apa pendapat mereka tentang kami. Setelah dia “cicicuit” dengan pendapatnya yang memekakkan telinga, dengan santai aku menjawab “semua manusia di hadapan Allah itu sama, yang membedakan iman dan takwanya”. Tuh orang mungkin langsung cari tahu “who I am”.
Ketika ada “mutual friend”-ku ada ustadznya, yang merupakan teman yang sama, akhirnya dia meminta maaf kalau dia khilaf dan sebagainya.
Coba kalau dari awal dia tidak memandang karena ustadznya itu merupakan teman yang sama, tetapi lebih kepada bahwa manusia itu sama di hadapan Allah. Maka, tidak akan ada sekat, berkotak-kotak, menggolongkan-golongkan.
Jika mau disombongkan, gaji kita (BMI HK) melebihi gaji PNS di daerah-daerah. Skill kita melebihi mereka yang lulusan universitas. Hubungan dengan publik pun bisa dibilang jempolan. Advokasinya melebihi advokat di tanah air. Masakannya melebihi koki bintang lima sekalipun. Tata riasnya ajib. Tilawahnya masya Allah! Tapi apa yang patut kita sombongkan jika semuanya hanya sementara? Semuanya milik Allah dan kembali pada-Nya!
Maka, bagi teman-teman yang merasa direndahkan, dicemooh, dan sebagainya, biarkan saja! Mereka bicara apa, yang penting toh kita tidak merugikan mereka. Tetap semangat dengan tujuan awal dan karya-karya kita. Karena kitalah generasi penerus bangsa, pembangun di desa masing-masing. Allahu Akbar! Kayao! (Rima Khumaira/ddhongkong.org).*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s