Anak Jakarta Kok Kerja di Hong Kong?

 Istilah “Dari Hong Kong” sering kudengar ketika berbicara dengan teman-temanku dulu. Kalau minta atau ada apa-apa, pasti bilangnya “Uang dari Hong Kong?” atau “Bapak Lo dari Hong Kong?”.
Tidak disangka, aku kini berada di negeri beton itu. Begitulah jika Allah punya rencana. Dia akan memberikan sesuatu yang menurut kita tidak mungkin, bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Mungkin aneh bagi kebanyakan kawan BMI, kenapa anak Jakarta kok bisa sampai bekerja di Hong Kong. Padahal, banyak lapangan pekerjaan di sana. Gaji pun lumayan tidak seperti di desa atau pedalaman.
Suatu ketika, aku ditanya oleh kawan BMI ketika aku shalat berjamaah di Masjid Wanchai. “Asalnya dari mana Nduk? Kok tidak bisa bahasa Jawa?” tanyanya.
“Jakarta, Bu, saya bisa bahasa Jawa, tapi Jawa Barat. Nenek saya orang sana. Ibu ngomong Jawa, saya ngerti, tapi saya tidak bisa jawabnya atau bahkan ada kata yang tidak saya mengerti mungkin karena beda logat,” ujarku sambil tersenyum.
“Oalah, Nduk, di sana (Jakarta) ‘kan banyak lapangan pekerjaan, gajinya juga gede tidak seperti di desa. Kenapa kok masih ke Hong Kong?”
Aku hanya tersenyum. Agar dia tidak bertanya lagi, akhirnya aku jawab sekenanya. “Kalau saya tidak ke sini,saya tidak bisa bertemu ibu sekarang. Tidak bisa shalat berjamaah di sini”.
“Oalah, Nduk, bisa saja sampeyan ini. Yo wis aku tak duluan pulang dulu, insya Allah kita bisa ketemu lagi. Assalamualaikum…” katanya. “Wa’alaikumsalam, insya Allah sampeyan juga hati-hati di jalan…”
BANYAK alasan kenapa orang-orang merantau ke luar negeri, entah karena ingin memperbaiki ekonomi, mencari pengalaman, ilmu, ingin melupakan masa lalu, atau bahkan hanya coba-coba mengadu nasib.
Putus cinta, kegagalan dalam membina suatu hubungan, membuatku patah semangat, hilang gairah hidup, bahkan ingin mati saat itu juga. Tapi masih mengingat orang-orang yang kusayangi, merekalah semangatku untuk bangkit kembali. Walau bagaimanapun, aku harus berusaha setidaknya demi orang yang menyayangiku dengan tulus, keluargaku. Ya, karena merekalah aku bertahan!
Di tengah kegalauan, kebimbangan, keterpurukan, bahkan merosotnya nilai iman, Allah Swt mempunyai rencana tersendiri. Tiba-tiba terpikir olehku untuk merantau ke luar negeri, lihat berita di koran waktu itu Hong Kong gaji paling besar di antara negara-negara tujuan lainnya.
Malam sebelum pemberangkatan ke PJTKI, aku habiskan malamku dengan mengkhatamkan Al-Qur’an, entah sepertinya hari itu adalah hari yang paling berat. Aku masih menanti tanda dari Robb, apa yang harus aku lakukan. Hingga menjelang Subuh, aku selesai membacanya. Kakak terjaga dari tidur dan menegurku untuk beristirahat. Namun, aku hanya diam.
Pagi harinya aku berangkat ke PT di daerah tambak Matraman Jakarta Pusat, diantar kakak iparku. Sedih rasanya meninggalkan mereka dalam waktu yang lama nantinya.
Setelah masuk PJTKI, aku langsung dapat job, menjaga nenek. Selang waktu dua bulan, tidak ada kabar dari pihak agency. Kutanyakan kepada pemilik PJTKI, katanya ternyata aku di-cancel, entah karena alasan apa.
Aku tambah down. Hari-hariku diisi dengan menangis dan menangis. Bukan karena cancel-nya pekerjaanku, tapi masih teringat si dia yang katanya sayang, cinta, dan ingin sehidup-semati denganku. Kini dia telah pergi tanpa alasan yang jelas.
Komunikasi kami terhambat ketika aku ditugaskan di luar kota, mungkin ini yang menjadi penyebab retaknya hubungan kami. Tapi toh aku pindah tugas juga dengan persetujuannya, karena ada kenaikan posisi jabatan dan masa depanku lebih baik di tempat baru dan ini demi kebaikan masa depan kami nantinya. Kenapa ia yang berkhianat mengingkari janjinya?
“Ah, laki-laki saja sama, brengsek, dan tidak setia! Jika aku mau bersabar, mengapa dia tidak? Jika aku mau menunggu kenapa dia….” Kenapa dan kenapa itu yang menjadi pertanyaanku. Ia sulit dihubungi untuk konfirmasi, masalah seakan menghindar dan hilang ditelan bumi.
Beruntung aku mempunyai teman-teman yang baik. Mereka menghiburku, memperlakukan aku seperti keluarga. Aku bahkan yang paling manja di antara semuanya.
Bapak asrama pun menyayangiku seperti anaknya sendiri. Kami sering diajak jalan-jalan ke kebun teh setiap minggu pagi, dan pergi ke pasar malam, hanya untuk sekadar makan bakso bersama.
Penampungan kami di Villa Bogor, jadi tidak seperti di dalam penampungan, namun lebih kepada rekreasi menenangkan hatiku yang kalut. Karena selama di sana kegiatan tidak mengekang.
Genap setahun aku di PJTKI, karena adanya pertikaian antara pihak PT dengan agency, kamilah yang kena imbasnya. Lama terbang ke negara tujuan, job pun belum dapat. Namun alhamdulillah, waktu itu ada agency yang datang langsung ke tempat kami, bertemu dan interview kami langsung. Jadi, mereka tahu bagaimana kinerja kami dan ternyata saya diterima.
Semua memang ada waktunya. Kemungkinan waktu itu, kalau saya memaksakan diri dengan job yang lama, belum tentu seperti sekarang ini, mengingat banyak yang di interminit, diberhentikan sebelum masa kontrak kerja habis, dipulangkan tanpa membawa hasil.
Kesabaran memang berbuah manis. Genap setahun akhirnya aku bisa terbang ke Hong Kong. Dengan penuh perjuangan, kesabaran dalam menata hati, memendam rindu dengan keluarga, akhirnya saya berangkat ke negara tujuan.
Doa awalku ketika berangkat aku ingin menemui rumah Allah. Kuingin menjumpainya dan beribadah di sana. Walau menurut kebanyakan teman di sana tidak boleh shalat, aku tidak menggubrisnya. Karena aku yakin niat baik akan selalu ada jalan, lagi pula setiap negara itu pasti ada muslimnya dan mempunyai masjid, walau entah di mana berada.
SEMINGGU di Hong Kong aku langsung dapat libur, tapi belum bisa keluar sendiri. Sinsang mengajakku ke agent untuk mengambil KTP, akhirnya libur pertamaku kuhabiskan di agen untuk beristirahat.
Beruntung di sana aku bertemu dengan kawan PT dulu, namun hanya bisa menyapa sebentar, karena aku harus pergi karena hanya libur setengah hari.
Libur minggu kedua, aku beranikan diri bilang ke sinsang, kalau aku ingin ke masjid. Sinsang hanya tanya, apa aku tahu jalan ke sana dan aku bilang nanti bisa tanya teman-teman Indonesia di jalan.
Alhamdulillah, waktu di dalam kereta, aku bertemu jilbaber, aku langsung tanya di mana alamat masjid terdekat dan bagaimana pergi ke sana.Ternyata mudah, hanya naik kereta dan pindah naik bis dari Hung Hom ada bis yang langsung jurusan ke masjid. Bis nomor 111 atau 101 jurusan Central, Macau Ferry.
Kesibukan yang kujalani sedikit melupakan bayangku tentang dirinya, hingga suatu malam aku bermimpi. Ia datang menemuiku dan bilang kalau ia sudah menikah dan aku harus melupakannya. Sesak nafasku dan kuterbangun, waktu menunjukan pukul 6 pagi, masih gelap mungkin karena masih dampak winter. Lalu aku bangun dan mengambil air wudhu, kuhamparkan sajadah, beribadah, serta bermunajat.
Dua minggu kemudian aku coba cari tahu tentangnya, menghubungi kawan kerjaku dulu, dan aku bertanya tentang kabarnya. Ternyata benar, dia sudah menikah. Aku hanya bisa pasrah, mungkin belum jodoh. Hiburku dalam hati.
Walau berusaha tegar, namun aku wanita biasa. Menangis itu yang bisa kulakukan hingga mataku sembab. Namun, aku tidak pernah cerita kepada keluargaku apa yang aku alami dan rasakan. Setiap telepon kasih kabar ke mereka, aku selalu mengabarkan baik-baik, aku tidak ingin mereka melihat aku bersedih. Cukup aku yang merasakannya.
Kini, air mataku terasa telah mengering, bukan berarti hatiku beku. Namun lebih pada pembelajaran yang kualami. Belajar dari masa lalu, sehingga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Aku sadar, Allah menegurku mungkin juga cemburu, karena aku terlalu berlebihan mencintai selain-Nya. (Rima Khumaira/ddhongkong.org).*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s