Stephanie, Fotografer BMI Hong Kong

stephanie indah pratiwiMan Jadda Wajadda, siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil. Itulah kata ajaib dalam hidupku. Berawal dari sekadar hobi memotret, kini menjadi anugrah tersendiri bagiku. Betapa tidak, aku yang tidak sampai lulus sekolah SMA, dari keluarga biasa, bukan lulusan perguruan tinggi atau lembaga kursus mana pun, kini menjadi fotographer di kalangan BMI Hong Kong.

Bukan berarti sombong atau tidak pentingnya pendidikan. Namun, di sini aku hanya sekadar berbagi, jika sesuatu yang kita kerjakan dengan bersungguh-sungguh, maka akan membuahkan hasil yang baik, insya Allah.

Selain menambah penghasilan, menyenangkan hati teman, pelanggan, tambah pengalaman, bisa ikut berpartisipasi dalam event-event yang ada di Hong Kong, bertambah ilmu, wawasan, saudara/teman, ternyata mengerjakan sesuatu yang kita senangi itu akan lebih “enjoy” dalam menjalankannya. Apalagi bisa menghasilkan.

Namaku Stephanie Indah Pratiwi, dari Sengkang Sulawesi Selatan. Aku lahir 10 Mei 1992. Anak pertama dari lima saudara. Aku berangkat kerja ke Hong Kong ketika berumur 16 tahun, tapi usiaku dipalsukan atau dituakan oleh PJTKI.
Awalnya aku menjadi BMI setelah dapat telepon dari salah satu keluarga untuk menawarkan pekerjaan di Hong Kong. Saat itu aku masih kelas 2 SMA. Karena kasihan melihat orang tua, siang malam menjemput rezeki, aku memutuskan untuk tidak melanjutkanya. Aku memberanikan diri menuju bandara seorang diri yang jaraknya sekitar 5 jam dari rumah, naik bis lalu menuju ke pelabuhan Makassar menuju Surabaya.

Aku merasakan tidak nyamannya di atas kapal. Dua hari tidak makan karena perut terasa mual, akhirnya setelah sampai di pelabuhan dipapah salah satu keluarga menuju Jember. Setelah beberapa minggu di Jember, aku diantar keponakan daftar menjadi TKI.

Setelah tiga bulan di PT, aku  mendapatkan majikan. Bulan lima tanggal 10 aku sudah sampai di Hong Kong.

Menyukai fotografi bermula dari kegiatan libur dengan teman – teman yang hobinya tiap Minggu suka difoto dengan kembang setaman. Mereka suka dengan hasil foto-fotoku, bahkan ada sampai yang booking hanya untuk sekedar difoto.
Lalu aku membeli laptop dan bingung mau buat apa supaya tidak menganggur karena tidak ada kegiatan.

Awal iseng pelajari di website tentang fotografi, cari tutorial, browse di internet sampai diberi aplikasi oleh master fotografi yang kenal lewat chatting, tapi tetap harus belajar sendiri. Setiap hari aku asah keingintahuanku dalam fotografi.

Aku suka dengan foto yang bermoment, seolah-olah gambar yang ada di dalamnya itu tetap hidup. Sayang, kemudian kameraku hilang. Tapi aku tidak patah semangat, walaupun hanya bermodal kamera digital dengan editing tetap jalan.

Kesulitan yang aku hadapi ketika kamera Cannonku hilang. Jadi harus gantian dengan teman yang mau pinjami, itu juga kalau kita keluar bareng. Jadi, aku hanya mengandalkan kamera digital dan editing.

Cuaca kadang bikin bete, nanti mendung, hujan, jadi harus menunggu reda sedangkan model sudah lelah dan mau pergi.

Aku suka sekali dengan karya Ryan Bryan (fotografer Indonesia), bisa dibilang nge-fans banget. Editingnya mantap, fotonya bagus sekali. Bukan hanya sekadar foto, tapi seperti ada makna di dalamnya.

Manfaatnya yang aku rasakan setelah menjadi BMI HK, kini aku bisa hidup mandiri, mempunyai penghasilan sendiri, membantu orang tua, apalagi aku anak pertama, tulang punggung keluarga, bertambah ilmu,wawasan, teman, lebih bisa menghargai orang lain karena sekeliling kita banyak juga yang negatifnya.

Sesuatu yang membuatku patah semangat adalah ketika ada omongan dari kawan-kawan yang menyinggung masalah kerjaan, tapi dengan melihat foto/hasil karya Ryan Bryan, aku jadi kembali semanngat.

Banyak pelajaran yang berharga yang aku dapatkan disini. Walau di negeri yang notabene non-Muslim, namun yang aku rasakan bisa tahu lebih banyak di sini. Dari disiplin, hidup bersih, tertib, teratur, etos kerja yang baik, hingga tanggung jawab.

Bagi kawan-kawan BMI, mari kita terus berkarya! Jangan sampai kita hanya dipandang sebagai PRT yang cuma bisa “selonjoran” di pinggir jalan kalau lagi libur dan itu sama saja seperti mengotori rumah orang. Galilah ilmu sebanyak mungkin karena yang kita dapatkan di sini belum tentu bisa diraih di tanah air.

Jangan pernah menyerah, tetap semangat walaupun kita hanya BMI, tapi percayalah setiap orang punya potensi masing-masing, tapi itu juga harus terus digali

Bagiku, Ramadhan bulan yang penuh berkah. Alhamdulillah, rezeki di bulan ini saya dapat booking-an dari pengajian akbar untuk memotret ustadz, ibu-ibu pengajian, serta suasananya, bahkan ada undangan dari kontes-kontes yang diadakan organisasi BMI HK.

Sempat juga dapat inboks via facebook kalau ada seorang kawan dari Pontianak mau belajar privat tentang editing, mungkin dia pikir saya di Indonesia.  (Seperti dituturkan kepada Rima Khumaira/ddhongkong.org).*

 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s