Ahad Ceria Bersama JDU Firdaus

Oleh Rima Khumaira

Ahad yang ceria. Alhamdulillah, hari libur kali ini suhu tidak begitu dingin.Tak perlu repot pakai jaket tebal. Karena weekend jadi malas bangun pagi, tapi karena ingat kali ini tugasku meliput pengajian yang diadakan oleh JDU Firdaus, Nada dan Dakwah: Angeluri Kabudayaan Jawi, bersama Ki Joko Goro-Goro dan Grup Sholawat Nurul Jadid dari Demak Jawa Tengah. Dengan gontai, kulangkahkan kaki bangun dari pembaringan.

Sempat penasaran kenapa kok di sebut Ki Joko Goro-Goro. Terus ada pertunjukan wayangnya juga. Hmmm… sudah lama tidak menonton pertunjukan wayang. Dulu pernah lihat waktu masih SD, sudah lama sekali.

Rumahku di daerah Kowloon Tong. Menuju Chaiwan, aku naik MTR ke arah Yau Tong dulu, baru interchangeke Chai wan.

Tiba di Chaiwan, tepatnya di Kasim Tuet Memorial College, jamaah sudah membludak. Hampir tidak bisa masuk. Aku langsung memotret, mengambil gambar untuk melengkapi bahan beritaku nanti untuk dimuat diDDHK News.

Aku pun duduk di urutan paling belakang. Ku lihat Ukhti Mixel, salah satu pengurus JDU Firdaus, sedang mengedarkan kaset VCD pengajian atau entah apa. Ia tampak cantik dengan busana kebaya hijau serta “blink-blink” aksesorisnya. Kusapa dia, kemudian Mixel mengajakku langsung ke samping panggung agar mudah wawancara dengan ustadznya.

Di sana aku bertemu dengan ketua JDU, Ukhti Firda, langsung disambut ramah dengan kawan-kawan dari organisasi lain.

 

Image

Walau belum yakin aku akan mengerti apa yang disampaikan sang ustadz, soalnya pakai bahasa Jawa yang aku kurang paham. Tapi melihat antusias para jamaah, mereka tertawa, aku ikut tertawa aja, daripada bonyok..he..heee.. Terkadang aku tanya, apa maksud yang disampaikan, kok pada tertawa? Setelah mereka menjelaskan sedikit maksudnya, baru aku tahu.

Acara break sebentar untuk sholat Dhuhur dan makan siang. Menu soto jadi pilihan (memang itu yang disediakan, he..hee..) bersama seorang personil Robbana Nurul Jadid , Ukhti Hayatun. Kita makan sambil ngobrol ringan.

“Bagaimana, senang tidak bisa tampil di Hong Kong dan tanggapannya tentang BMI HK?”

“Senang dan tidak menyangka bisa sampai ke luar negeri, apalagi sampai Hong Kong ini. Tidak mengira teman-teman begitu antusias. Mereka kompak, akrab, kekeluargaannya terasa sehingga seperti dalam lingkup keluarga sendiri. Apalagi sama-sama Jawanya. Pokoknya, salut dengan perjuangan mereka.”

Ia melanjutnkan, “Di tengah keterbatasannya bekerja dengan majikan masih menyempatkan hadir ke acara pengajian seperti ini. Tidak seperti negara lain yang saya dengar sering kali terjadi kasus yang tidak mengenakan. Di sini mereka begitu tertib, disiplin, saya rasa perlu dicontoh oleh negara kita dan para BMI perlu dihargai perjuangannya.”

Ustadz Abdul Rochim (Ki Joko Goro-Goro) pun gabung makan siang setelah sholat Dhuhur. Selesai makan, Ukhti Mixel bilang ke Yai, bahwa akan diwawancara oleh reporter dari Dompet Dhuafa (DDHK News).

Yai pun menjelaskan inti tausiyahnya tadi, karena aku tidak mengerti bahasa Jawa.

Setelah selesai wawancara, Yai melanjutkan tugasnya kali ini menyampaikannya dengan pertunjukan wayang dan Yai sebagai dalangnya.

Kemudian datang rekan reporter DDHK News lainnya, Lutfiana Wakhid. Dia gabung duduk denganku. Jamaah tertawa, kami pun ikut tertawa, padahal tidak paham apa yang disampaikan.

Acara berlangsung meriah. Jamaah masih ingin menikmati tausiyah dan pertunjukan wayang. Gurauan seru. Saking kesalnya tuh wayang, sampai diinjak oleh dalang! Namun, waktu sudah berakhir karena hanya sampai pukul 05.00 sore.

Selesai acara sempat foto bersama. Lalu kami keluar sholat sebentar dan kembali ke Causewaybay menuju Bella Berkah, wawancara terkait cerita wayang tadi.

Kebetulan ketemu Mas Bejo (Rapinhong). Kami ternyata satu tujuan. Sesampainya di sana, sudah ada Mas Eko (Rapinhong), disambut oleh Jamaah JDU.

Setelah bertemu Yai, saya menanyakan kisah wayang tadi, kenapa kok jamaah sampai tertawa-tawa. Yai pun menjelaskan dengan seksama.

“Begitu yaa… Dhuafa Dompet nanti ditulis bagaimana baiknya. Silakan di-share bersama kawan-kawan,” ujar Yai.

“Yai, ada Facebook ‘gak?” Lutfi menimpali.

“Yai nggak punya Facebook, repot nanti. Biar yang lain itu bagiannya.”

Shalat Maghrib berjamaah, kemudian dilanjutkan syukuran atas acara yang telah berlangsung sukses. (Rima Khumaira/ddhongkong.org).*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s